Ahmad Al Jazuly

Tak perlu berakademisi dalam bermodernisasi.

Jannatul Maiyah

Bersama Jannatul Maiyah menembus awan

Ahmad al jazuli and Nurul qhomariyah

Kami serahkan takdir kita kepada tuhan

The Habbibers

Imam Makhrus-Ahmad Jazuly-Siti Nur Azizah.

Ahmad Al Jazuly

Kimcil kepolennnnnnnnnnnnn....................

Minggu, 05 November 2017

Ketika Cinta Amnesia


Ketika cinta tak mengenal Aqidah
Aku tak peduli engkau NU atau Muhammadiyah, Suni ataupun Syiah
Kalau memang cinta itu melengkapi, maka dua Aqidah bersemi indah

Ketika cinta tak mengenal Ideologi
Aku tak peduli engkau Marxisme atau Kapitalisme, Pancasilais ataupun Komunis
Kalau memang cinta itu percaya dan setia, maka dua ideologi bermesraan pluralis

Ketika cinta tak mengenal Thoriqot
Aku tak peduli engkau Jancukiyah ataupun Maiyah
Kalau memang cinta itu bertuju bahagia, maka dua Thoriqot tertawa ria

Ketika cinta tak mengenal Organisasi
Aku tak peduli engkau Masyumi atau PKI, HMI ataupun HTI
Kalau memang cinta itu maslahatul ummat, maka sejuta organisasi bersatu misi

Ketika cinta tak mengenal  Ahlaq
Aku tak peduli engkau mahmudah atau mazmumah, hasannah ataupun dolalah
Kalu memang cinta itu meluruskan, maka Ahlaq bukanlah pantangan

Ketika cinta tak mengenal Kelas
Aku tak peduli engkau atasan atau bawahan, proletar ataupun borjouis
Kalau memang cinta itu menyatukan, maka perbedaan kelas tidaklah berbekas

Ketika cinta tak mengenal Kualitas
Aku tak peduli engkau jelek atau cantik, bodoh ataupun pintar
Kalau memang cinta itu berikrarkan tulus dan Ikhlas, maka kualitas tak jadi prioritas

Ketika Cinta tak mengenal Jarak
Aku tak peduli engkau disini atau disana, di negeri ini ataupun negeri tetangga
Kalau memang cinta itu saling mengerti dan memiliki, maka jarak tiadalah berarti

Ketika cinta tak mengenali aku
Maka kamulah pertanyaan dan sekaligus jawaban, sebab dan juga akibat
Atas segala keamniesianmu terhadapa aku

Kediri, 5 November 2017

jazulisme

Senin, 23 Oktober 2017

Di Balik Senyuman Kaum Proletar


Yang Rabbaniyah, engkau iman dan tauhidkan kuat-kuat dalam sanubari
Meski hari ini engkau dapati sesuap nasi
Namun senyuman ikhlas bapak akan warnai hari-hari
Kami juga berhak tersenyum wahai borjouis

Yang Ahlaqiyah, engkau sinergikan di bawah payung ekonomi dan politik
Karena hari ini engkau mengemban janji
Dan esok adalah bukti duniawi dan sekaligus saksi akhirati                      
Kami juga berhak tersenyum wahai kapitalis

Yang Insaniyah, engkau fitrah dan asumsikan di bawah nama Tuhan
Padahal engkau tak memanusiakan apa yang Tuhan manusiakan
Hingga malam-malam nya ter mataharikan
Kami tetap ternsenyum di bawah gubuk proletar

Yang Alamiyah, engkau eksploitir se profan-profanya
Hingga engkau lalai bahwa lusa itu bencana
Dan kami kau kambing hitamkan atas segalanya
Namun sekali lagi, kami itu bukan proletar gadungan

Kami itu Proletar Tasamuh, maka kami tak pernah memakasa
Kami itu Proletar Tannawu’ maka kami beraneka warna
Kami itu Proletar Wasathiyah, maka kami moderat jua
Kami itu Proletar Takamul, maka kami mendukung sepenuhnya

#jazulisme

#Kediri, 23 October 2017

Senin, 16 Oktober 2017

CAHAYA ke-26


Harga sebuah kebaikan yang kau janjikan, dan
Hukuman sebuah keburukan yang kau camkan
Aku bahkan tak mampu membelinya, dan
Bahkan aku tak kuat menerimanya

Munkar, munafik, maksiat dan nafsu yang bersarang di jiwa dan raganya
Apakah engkau akan melengkapinya dengan yang sedemikan pula?
Maaruf, sidiq, shaleh dan pahala yang bersemayam di hati dan fikiranya
Apakah engkau akan mempersatukanya dengan yang sedemikian rupa?

Cahaya……. Engkau yang sebenar-benarnya cahaya
Engkau sejatinya bersinar karena kegelapan bukan?
Kelam…….. Engkau yang sekelam-kelamnya malam
Engkau  sejatinya terang karena cahaya bukan?

Yang Mukasyafah, aku yakin dan pasrahkan aku akan peran-Mu
Yang Muamalah, aku harap dan do’akan aku akan hidayah-Mu.
Aku merayu-Mu wahai cahaya……, dan
Aku memuja-Mu duhai cahaya  ke-26

Refleksi!
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). [An-Nur: 26]


#jazulisme                                                                                                  Kediri, 16 October 2017

Selasa, 10 Oktober 2017

Untukmu yang Berkata “JANGAN MEMBODOHI PUBLIC”


UNTUKMU YANG BERKATA “JANGAN MEMBODOHI PUBLIC”
Kalimatmu itu manis dengan bungkus janji di luarnya
Janjimu itu sampah serapah dengan slogan senyum lebar dimana-mana
Kamu mendiktenya dengan hasut muslihat visi-misi mu
Kamu mengingkarinya dengan dalih arogansi mu

UNTUKMU YANG BERKATA “JANGAN MEMBODOHI PUBLIC”
Kami bodoh bukan berarti kamu bisa membodohi
Kamu pintar bukan berarti kamu selamanya benar
Kamu itu picik, licik, dan mencekik
Padahal kamu berdiri diatas pundak restu kami

UNTUKMU YANG BERKATA ”JANGAN MEMBODOHI PUBLIC’’
Popularitasmu kian meluas tanpa batas
Rakyatkmu kian lemas sulit bernafas
Ketamakan kamu gadangkan
Ketar-ketir rakyatmu  kian memiluhkan

UNTUKMU YANG BERKATA ”JANGAN MEMBODOHI PUBLIC’’
Sampai kapankah kamu terus menerus begini
Sampai hatikah kamu melihat derita kami
Gusti…. siramkan rahamat hidayah-Mu kepada wakil kami
Gusti…. kuat dan tabahkan kami atas khilafnya wakil kami

GUSTI... AKU TITIPKAN UNTUK-MU YANG BERKATA “JANGAN MEMBODOHI PUBLIC”


#jazulisme                                                                                                    Kediri, 10 October 2017

Kamis, 05 Oktober 2017

Khitbahkan Janji Hipotesis Kita "Sayang"

Aku……, Secara Quantitative mungkin tak pernah  terpresisi di fikiranmu
Tetapi……..!
Aku……, Secara Qualitative terus berusaha mempresisikannya di hatimu
Hingga hipotesis awalku berkata "Sayang……..! Aku, Secara Quantilative akan mempresisikan keduanya, baik itu di Fikiran maupun di Hatimu"
Ya, walaupun…….!
Aku butuh amunisi (R n D) untuk menguji sejauh manakah nilai perjuangan cinta suci ini?
Dan………!
Aku perlu strategi (C.A.R) untuk mengetahui apakah perjuanganku selama ini melukiskan setitik tinta perubahan?
Meskipun itu sejuta siklus konsekuensinya,
Namun janji ‘’kesetiaanlah’’ yang akan memeluk erat hipotesis finalnya.

#jazulisme (Kediri, 5 October 2017)

Kamis, 10 Agustus 2017

Rasi "Teman yang Mungkin Terbaik Bagimu"


RASI
(teman yang mungkin terbaik bagimu)

Prau waktu itu. Aku rasa aku egois jika terus berlanjut menghubungimu namun harus segera meninggalkanmu. Cukup kau kenal aku lelaki asing yang pertama kali kau temui di Prau. Namun jika sesekali kau ingin melihatku, carilah rasimu, Lyra, di dekatnya kau akan temukan satu rasi, itu Cygnus. Sebuah rasi yang berbentuk angsa. Di sana kau dapat temukan aku, hanya di sana aku dapat berada dekat di sisimu. Rasi Lyra dan Cygnus, meski tak begitu dekat namun tetap terhubung. Semoga sama seperti kau dan aku, setidaknya dengan kau mengijinkanku aku sesekali datang diingatanmu, menjadi sahabat dekatmu.

Tetap lanjutkan hidupmu. Aku akan lebih bahagia jika suatu saat kau mengingatkanku di suatu bukit atau di manapun itu dan kau ditemani oleh satu sosok yang akan berperan sebagai Aquila, rasi bintang berbentuk elang yang menjadi penjaga kedua sahabat rasinya, Lyra dan Cygnus. Pun akan selalu bisa menjagaku, apapun keadaanya.

Jangan tutup hatimu, terus berjalanlah. Hadapi pertemuan-pertemuan baru hingga kau menemukan satu, dan kau bersedia menerimanya untuk berjalan bersama membuka pintu pertemuan-pertemuan baru lainya.


Denebia Dawai

Kediri, 11 Agustus 2017
#Jazulisme

Rabu, 12 April 2017

Kebudayaan dan Pendidikan

Kebudayaan dan Pendidikan
     Allport, Vernon dan Lindzey (1951) mengidentifikasikan enam nilai dasar dalam kebudayaan yakni nilai teori, ekonomi, estetika, sosial, politik, dan agama. Yang dimaksudkan dengan nilai teori adalah hakikat penemuan kebenaran lewat berbagai metode seperti rasioanalisme, empirisme, dan metode ilmiah. Nilai ekonomi mencakup kegunaan dari berbagai benda dalam memenuhi kebutuhan manusia. Nilai estetika berhubungan dengan keindahan dan segi-segi artistik yang menyangkut antara lain bentuk, harmoni, dan wujud kesenian lainnya yang memberikan kenikmatan kepada manusia. Nilai social berorientasi kepada hubungan antarmanusia dan penekanan segi-segi kemanusiaan yang luhur. Nilai politik berpusat kepada kekuasaan dan pengaruh baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia politik. Sedangkan nilai agama merengkuh penghyatan yang bersifat mistik dan transedental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti bagi kehadirannya di muka bumi. Setiap kebudayaan memiliki skala hirarki mengenai mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting dari nilai-nilai tersebut di atas serta mempunyai penilaian tersendiri dari tiap-tiap kategori. Alisjahbana (1975) mengkaji perkembangan kebudayaan Indonesia dari segi ini dalam publikasinya Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia dari Jurusan Nilai-nilai.

      Berdasarkan penggolongan tersebut di atas maka masalah pertama yang dihadapi oleh pendidikan ialah menetapkan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak kita. Pendidikan yang dapat diartikan secara luas sebagai usaha yang sadar dan sistematis dalam memebantu anak didik untuk mengembangkan pikiran, kepribadian, dan kemampuan fisiknya, mengharuskan kita setiap waktu untuk mengkaji kembali masalah tersebut. Hal ini harus dilakuakan disebabkan oleh dua hal yakni, pertama, nilai-nilai budaya yang harus dikembangkan dalam diri anak didik kita haruslah relavan dengan kurun zaman di mana anak itu akan hidup kelak dan, kedua, uasaha pendidikan yang sadar dan sistematis mengharuskan kita untuk lebih eksplisit dan definitive tentang hakikat nilai-nilai budaya tersebut. Keharusan kita untuk bersifat eksplisit dan definitive ini disebabkan gejala kebudayaan, yang meminjam perkataan Hall, lebih banyak bersifat tersebunyi (implisit) daripada terungkap(ekspilisit), dan anehnya, hakikat kebudayaan itu justru lebih tersembunyi bagi anggota masyarakatnya. Gejala yang kelihatanya yang bersifat paradox ini mungkin tiadak mengherankan lagi bila diingat bahwa aspek kebudayaan yang kita terima begitu saja tanpa pengenalan dan pendalaman yang sadar.

      Masalah ini lebih serius lagi kalua diperhatikan bahwa pada kenyataanya nilai-nilai budaya yang disampaikan lewat proses pendidikan bukan nilai-nilai yang diperlukan oleh anak didik kita kelak dimana dia akan dewasa dan berfungsi dalam masyarakat melainkan nila-nilai konvensional yang sekarang berlaku yang didalami dan dipraktekkan oleh orang tua dan guru meraka selaku pendidik. Kesimpulan sementara penelitian Sheldon Shaeffer di kecamatan Turen, Malang (1978), menyebutkan bahwa kegiatan pendidikan dasar di sana tidak memberikan pengetahuan, nilai, sikap, yang diperlukan anak itu kelak untuk hidup dalam abad XXI.



Gordon W. Allport, Philip E. Vernon dan Gardner Lindzey, Studies of Values (Boston; Houghton-Mifflin, 1951), hlm.339.