Ahmad Al Jazuly

Tak perlu berakademisi dalam bermodernisasi.

Jannatul Maiyah

Bersama Jannatul Maiyah menembus awan

Ahmad al jazuli and Nurul qhomariyah

Kami serahkan takdir kita kepada tuhan

The Habbibers

Imam Makhrus-Ahmad Jazuly-Siti Nur Azizah.

Ahmad Al Jazuly

Kimcil kepolennnnnnnnnnnnn....................

Senin, 23 Januari 2017

Empat Peran Tuhan


Empat Peran Tuhan

Pertama, Tuhan sebagai pemberi solusi atau jalan keluar atas semua problem manusia. Manusia adalah makhluk serba-terbatas. Karenanya, apa pun yang diupayakan, suatu saat pasti akan terbentur
oleh kendala-kendala, dan kebuntuan-kebuntuan. Maka, sudah menjadi kewajiban mausia untuk menyerahkan segala sesuatunya pada Allah SWT atas seluruh problem dan persoalan hidupnya. Manusia tetaplah diwajibkan berupaya, Tuhanlah yang menentukan. Bila manusia berupaya sungguh-sungguh, tawadhu', dan tidak cepat putus asa, maka Tuhan pun mengabulkan keinginanya.

Kedua, Tuhan sebagai sumber dana atau asal-usul rejeki yang tak terduga-duga. Prinsip ini begitu mendasar dan penting, dalam konteks upaya manusia mengejar kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Tuhan adalah Maha pengatur Rejeki. Bila orang mengejar semata-mata materi, benda,maka ia akan tidak memperoleh benda. Tapi bila ia bekerja keras dan mengorientasikan aktivitas kerjanya, semata-mata mengharap ridha Tuhan, mengharap kenerkahan rejeki Tuhan, maka ia akan memperoleh materi, sekaligus keridhaan Tuhan, sebagai keberkahan hidup.

Ketiga, Tuhan sebagai akuntan atau manajer dan penghidupan setiap hamba-Nya. Ini berkait dengan Tuhan sebagai pemberi rejeki. Setelah diberi rejeki yang penuh keberkahan, maka seharusnya manusia tidak melupakan kewajibannya. Dalam harta yang mereka miliki, atas hak orang lain, yang harus dikeluarkan untuk zakat dan sedekah. Tuhan Maha Memperhitungkan, maka sudah selayaknya manusia tidak bertindak berlebih-lebihan. Melainkan proprsional, wajar, dan seimbang.

Keempat, Tuhan sebagai public relation atau 'humas' atau penyampai maksud, harapan, proposal, dambaan, impian, kepada siapa saja yang diharapkan terkait dengan itu. Tuhan adalah 'harapan terkahir' dari apa pun aktivitas yang dilakaukan makhluknya. Ia Maha Berkehendak, maka barangsiapa yang senantiasa berdoa dan berbuat kebaikan, maksud-maksud dan keinginan-keinginan-nya terkabulkan. Itulah gambaran takwa kepada Allah. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memudahkan jalan dan memberikan rizki-Nya yang datangnya tidak disangka-sangka.

Begitu amat pentingnya peran Tuhan atas makhluk-Nya. Dan begitu banyak orang yang membutuhkannya, namun meremehkannya.


*Retyped from : Kitab Ketentraman
*Retyped by   : Ahmad Al Jazuly

Kamis, 12 Januari 2017

Belajar Memahami Kondisi Orang Lain


Belajar Memahami Kondisi Orang Lain

Kalangan mahasiswa rawan mengalami pendangkalan agama karena kesalahan cara berpikir dan karakteristik mereka sendiri.

Seperti bapak-bapak dan ibu-ibu ketahui. Umumnya "anak muda" memiliki karakter gampang menilai orang lain dan belum tahu dunia nyata. Dipikirnya semua orang itu seperti dia; kuliah enak, makan cukup, dan dompetnya selalu terisi tiap awal bulan.

Dipikirnya dunia ini seperti buku teks. Karena belum mengenal dunia nyata, para mahasiswa jarang berpikir bahwa kehidupan di dunia ini sangat kompleks, hidup ini tidak seperti matematika 1+1 = 2.

Seperi contoh kasus yang sudah kita bahas bagi para mahasiswa, kalau melacur = masuk neraka. Mereka tidak punya wacana lain, misalnya"menolong".

Kalau tidak bisa memperbaiki, jangan merusak. Kalau tidak bisa membuat sesorang keluar dari kubangan lumpur dosa, jangan melemparnya dengan batu. Kalau tidak bisa menolong seseoarang keluar dari pekerjaan melacurkan diri, jangan sampai menambah kesedihannya. 

Jangan pikir para perempuan itu bahagia melacurkan diri. Sebagai bukti, tidak ada seorang pelacur pun di dunia ini yang mendoakan agar anak perempuanya esok mengikuti jejaknya. Pasti pelacur tersebut berdoa agar anak perempuanya tumbuh menjadi anak yang salehah dan hidup normal. Setiap ibu selalu menginginkan anaknya hidup bahagia duni-akhirat.

Jadi, langkah awal mengamankan anak bapak-ibu dari pendangkalan agama adalah membiasakan anak anda memandang kehidupan ini sebagai sesuatu yang sangat kompleks.

Hidup ini tidak hitam-putih. Hidup ini terdiri atas banyak warna yang sering bercampur jadi satu sehingga sulit dimengerti.

#retyped from : Kembali menjadi Manusia & Membuka Pintu Langit
#by                    : Ahmad Jazuly


Rabu, 11 Januari 2017

Membangun Ulang Peradaban


Membangun Ulang Peradaban

Terkadang diri kita lebih senang mendambakan  sesauatu dari luar dan meremehkan sesuatu dari dalam. Terkadang diri kita lebih senang  mencari-cari sesuatu yang tidak dimiliki dan membuang sesuatu yang sudah kita miliki.

Terkadang diri kita lebih senang menghabiskan waktu dengan teman dibandingkan dengan keluarga. Terkadang kita lebih senang menanyakan kabar kekasih hati daripada menanyakan kabar orangtua sendiri.

Terkadang kita lebih ikhlas berkorban untuk kemauan calon istri daripada untuk kemauan ibu sendiri. Terkadang kita lebih taat pada nasehat calon suami daripada nasihat ayah sendiri.


Terkadang kita lebih terpaku dengan Timur Tengah dan Barat, lalu membuang-buang semua warisan leluhur kita, entah atas alasan”lebih agamis” atau “lebih modernis”. Seperti contoh-contoh skala kecil di atas, ternyata diri kita memang lebih senang memprioritaskan hal yang salah.


PERADABAN  MANUSIA NUSANTARA  MASA  KINI

Kembali mempelajari Walisongo bukan berarti kita sedang berjalan mundur ke peradaban yang lebih rendah daripada peradaban kita sekarang, Dengan menggali kembali ajara Walisongo kita justru dapat memajukan kualitas peradaban bangsa Indonesia saat ini.
Kalau kita mau jujur, kualitas perdaban munusia di Era Reformasi lebih rendah bila dibandingkan dengan kulaitas peradaban manusia Indonesia saat Orde Lama ataupun saat Orde Baru. Kenapa bias demikian ?

Saat era Orde Lama, panglima peradaban ,manusia Indonesia adalah “politik”. Kemudian karena Orde Baru dikonsepkan sebagai pengoreksi keaslahan-kesalahan Orde Lama, maka panglima peradaban manusia Indonesia saat Orde Baru adalah “ekonomi”.
Bisa kita lihat dengan cermat, kedua fase itu ternyata gagal membawa Indonesia kea rah kemajuan dan kebaikan.

Akan tetapi seolah tidak belajar dan entah kenapa bias terjadi, Era Reformasi justru berpanglima “politik” dan “ekonomi” sekaligus. Peradaban bangsa kita sekarang ini justru lebih rendah daripada peradaban manusia pra-Indonesia merdeka.

Harap bedakan antara teknologi dan peradaban. Kalau masalah teknologi, tentu era kita jelas lebih canggih. Namun, soal perdaban manusia Indonesia era Reformasi, bias dibilang kalah dibandingkan dengan peradaban manusia Indonesia zaman pra-kemerdekaan.
Bangsa kita sekarang berpanglimakan “politik” dan “ekonomi” sekaligus. Akibatnya, bangsa kita sering kesulitan menemukan orang lain yang tulus dalam bergaul.

Agar lebih jelas dan mudah dipahami, kita pakai contoh kasus saja. Misalnya Anda diberi empat buah oilihan jalan hidup dan Anda benar-benar dibebaskan memilih oleh Allah Swt. Manakah yang Anda pilih? Menjadi (1) Orang saleh, (2) orang pintar, (3) orang berkuasa,atau (4) orang kaya.

Pilihannya cuman empat, Kira-kira mayoritas manusia Indonesia sekarang ini memilih nomor berapa jika dibebaskan oleh Allah Swt, untuk memilih? Menurut Anda, mayoritas manusia Indonesia sekarang benar-benar sangat ingin menjadi?

Kalau menurut KH. Muhammad Ainun Nadjib, seorang alim ulama yang juga pemerhati kebuadayaan, manusia Indonesia kini kebanyakan pasti ingin menjadi no (4), yaitu orang kaya. Tidak sekedar ingin, tetapi cenderung ambisius.

Jalan hidup yang paling diinginkan orang kebanyakan bahkan mungkin hamper semua masa kini adalah menjadi orang kaya.

Ranking kedua adlah cita-cita menjadi pejabat karena orang yang sudah punya kekuasaan, tidak pernah puas sebelum ia bias(tetap bercita-cita) jadi orang kaya. Oleh karena itu, kita jarang menemui pejabat yang tidak memperkaya dirinya.

Peringkat ketiga adalah cita-cita menjadi cendekiawan kerena kaum cendekiawan umumnya mau tunduk pada para pejabat, karena (lagi-lagi) juga mengincar kekayaan. Dengan menjadi bawahan para pejabat, seorang cendikiawan sering berharap diciprati uang.

Peringkat terakhir adalah cita-cita menjadi orang saleh. Peradaban manusia Indonesia Era Reformasi seperti itu kenyataanya. Orang saleh tidak dihargai di Indonesia.


Saya tidak menyebut”menjadi ulama” karena definisi ulamadi Indonesia sudah kacau-balau. Ahli fisika, ahli matematika, ahli sejarah, dan sebagainya tidak boleh dipanggil”ulama” di Indonesia. Jadi, saya memakai diksi”orang saleh”.


#retyped from: Kembali Menjadi Manusia.
#retyper         :Ahmad Jazuly

Sabtu, 07 Januari 2017

Coretan di Akhir Sememster V

Ada Sajak di Semester V

Bersama Jum’at
Agama sejenak menyejukanku dengan lantunan juz ‘amma di siang panas nya.
Terimakasih Bpk. Sukandar
Bersama Jum’at
TEFL & Media in ELT menyadarkanku terhadap apa itu Modernisasi n Mediasasi
Terimakasih Mr. Erwin
Bersama Jum’at
TEYL mengajakku untuk menjadi pribadi yang kreatif & inofatif
Terimakasih Mom. Wulan
Bersama Jum’at
Quantitative mangajarkanku bahwa bersikap teoritis & analitis itu juga perlu
Terima kasih Mr. Baihaki

Sabtu bersama
Translation & Psycholinguistic menanamkan apa arti disiplin kepadaku
Terimakasih Pak Pur
Sabtu bersama
English Drama memerankanku menjadi seorang Rahwana yang tulus hati
Terimakasih Mom. Kris
Sabtu bersama
Curmadev menuntunku untuk menjadi seorang yang rajin, terstruktur, dan rapi.

Terimakasih Mom. Lely
Sabtu bersama
Semantic menterjemahkanku apa itu Good Presenter

Terimakasih Ms. Ayu

Terimakasih Bapak/Ibu dosen ku
Terimakasih teman-teman ku
                                                                                                          by: Ahmad Jazuly


Rabu, 04 Januari 2017

Senin, 02 Januari 2017

Sinau media pembelajaran Bahasa Inggris

Minggu, 01 Januari 2017

Yukkk..........! Ber Nostalgia ngaji bareng GusDur