Terkadang
diri kita lebih senang mendambakan
sesauatu dari luar dan meremehkan sesuatu dari dalam. Terkadang diri
kita lebih senang mencari-cari sesuatu
yang tidak dimiliki dan membuang sesuatu yang sudah kita miliki.
Terkadang
diri kita lebih senang menghabiskan waktu dengan teman dibandingkan dengan
keluarga. Terkadang kita lebih senang menanyakan kabar kekasih hati daripada
menanyakan kabar orangtua sendiri.
Terkadang
kita lebih ikhlas berkorban untuk kemauan calon istri daripada untuk kemauan
ibu sendiri. Terkadang kita lebih taat pada nasehat calon suami daripada
nasihat ayah sendiri.
Terkadang
kita lebih terpaku dengan Timur Tengah dan Barat, lalu membuang-buang semua
warisan leluhur kita, entah atas alasan”lebih agamis” atau “lebih modernis”.
Seperti contoh-contoh skala kecil di atas, ternyata diri kita memang lebih
senang memprioritaskan hal yang salah.
PERADABAN MANUSIA NUSANTARA MASA KINI
Kembali
mempelajari Walisongo bukan berarti kita sedang berjalan mundur ke peradaban
yang lebih rendah daripada peradaban kita sekarang, Dengan menggali kembali
ajara Walisongo kita justru dapat memajukan kualitas peradaban bangsa Indonesia
saat ini.
Kalau kita
mau jujur, kualitas perdaban munusia di Era Reformasi lebih rendah bila dibandingkan
dengan kulaitas peradaban manusia Indonesia saat Orde Lama ataupun saat Orde
Baru. Kenapa bias demikian ?
Saat era
Orde Lama, panglima peradaban ,manusia Indonesia adalah “politik”. Kemudian
karena Orde Baru dikonsepkan sebagai pengoreksi keaslahan-kesalahan Orde Lama,
maka panglima peradaban manusia Indonesia saat Orde Baru adalah “ekonomi”.
Bisa kita
lihat dengan cermat, kedua fase itu ternyata gagal membawa Indonesia kea rah kemajuan
dan kebaikan.
Akan tetapi
seolah tidak belajar dan entah kenapa bias terjadi, Era Reformasi justru
berpanglima “politik” dan “ekonomi” sekaligus. Peradaban bangsa kita sekarang
ini justru lebih rendah daripada peradaban manusia pra-Indonesia merdeka.
Harap
bedakan antara teknologi dan peradaban. Kalau masalah teknologi, tentu era kita
jelas lebih canggih. Namun, soal perdaban manusia Indonesia era Reformasi, bias
dibilang kalah dibandingkan dengan peradaban manusia Indonesia zaman
pra-kemerdekaan.
Bangsa kita
sekarang berpanglimakan “politik” dan “ekonomi” sekaligus. Akibatnya, bangsa
kita sering kesulitan menemukan orang lain yang tulus dalam bergaul.
Agar lebih
jelas dan mudah dipahami, kita pakai contoh kasus saja. Misalnya Anda diberi
empat buah oilihan jalan hidup dan Anda benar-benar dibebaskan memilih oleh
Allah Swt. Manakah yang Anda pilih? Menjadi (1) Orang saleh, (2) orang pintar,
(3) orang berkuasa,atau (4) orang kaya.
Pilihannya
cuman empat, Kira-kira mayoritas manusia Indonesia sekarang ini memilih nomor
berapa jika dibebaskan oleh Allah Swt, untuk memilih? Menurut Anda, mayoritas
manusia Indonesia sekarang benar-benar sangat ingin menjadi?
Kalau
menurut KH. Muhammad Ainun Nadjib, seorang alim ulama yang juga pemerhati
kebuadayaan, manusia Indonesia kini kebanyakan pasti ingin menjadi no (4),
yaitu orang kaya. Tidak sekedar ingin, tetapi cenderung ambisius.
Jalan hidup
yang paling diinginkan orang kebanyakan bahkan mungkin hamper semua masa kini
adalah menjadi orang kaya.
Ranking
kedua adlah cita-cita menjadi pejabat karena orang yang sudah punya kekuasaan,
tidak pernah puas sebelum ia bias(tetap bercita-cita) jadi orang kaya. Oleh karena
itu, kita jarang menemui pejabat yang tidak memperkaya dirinya.
Peringkat
ketiga adalah cita-cita menjadi cendekiawan kerena kaum cendekiawan umumnya mau
tunduk pada para pejabat, karena (lagi-lagi) juga mengincar kekayaan. Dengan
menjadi bawahan para pejabat, seorang cendikiawan sering berharap diciprati
uang.
Peringkat
terakhir adalah cita-cita menjadi orang saleh. Peradaban manusia Indonesia Era
Reformasi seperti itu kenyataanya. Orang saleh tidak dihargai di Indonesia.
Saya tidak
menyebut”menjadi ulama” karena definisi ulamadi Indonesia sudah kacau-balau.
Ahli fisika, ahli matematika, ahli sejarah, dan sebagainya tidak boleh
dipanggil”ulama” di Indonesia. Jadi, saya memakai diksi”orang saleh”.
#retyped from: Kembali Menjadi Manusia.
#retyper :Ahmad Jazuly


0 komentar :
Posting Komentar