Rabu, 11 Januari 2017

Membangun Ulang Peradaban


Membangun Ulang Peradaban

Terkadang diri kita lebih senang mendambakan  sesauatu dari luar dan meremehkan sesuatu dari dalam. Terkadang diri kita lebih senang  mencari-cari sesuatu yang tidak dimiliki dan membuang sesuatu yang sudah kita miliki.

Terkadang diri kita lebih senang menghabiskan waktu dengan teman dibandingkan dengan keluarga. Terkadang kita lebih senang menanyakan kabar kekasih hati daripada menanyakan kabar orangtua sendiri.

Terkadang kita lebih ikhlas berkorban untuk kemauan calon istri daripada untuk kemauan ibu sendiri. Terkadang kita lebih taat pada nasehat calon suami daripada nasihat ayah sendiri.


Terkadang kita lebih terpaku dengan Timur Tengah dan Barat, lalu membuang-buang semua warisan leluhur kita, entah atas alasan”lebih agamis” atau “lebih modernis”. Seperti contoh-contoh skala kecil di atas, ternyata diri kita memang lebih senang memprioritaskan hal yang salah.


PERADABAN  MANUSIA NUSANTARA  MASA  KINI

Kembali mempelajari Walisongo bukan berarti kita sedang berjalan mundur ke peradaban yang lebih rendah daripada peradaban kita sekarang, Dengan menggali kembali ajara Walisongo kita justru dapat memajukan kualitas peradaban bangsa Indonesia saat ini.
Kalau kita mau jujur, kualitas perdaban munusia di Era Reformasi lebih rendah bila dibandingkan dengan kulaitas peradaban manusia Indonesia saat Orde Lama ataupun saat Orde Baru. Kenapa bias demikian ?

Saat era Orde Lama, panglima peradaban ,manusia Indonesia adalah “politik”. Kemudian karena Orde Baru dikonsepkan sebagai pengoreksi keaslahan-kesalahan Orde Lama, maka panglima peradaban manusia Indonesia saat Orde Baru adalah “ekonomi”.
Bisa kita lihat dengan cermat, kedua fase itu ternyata gagal membawa Indonesia kea rah kemajuan dan kebaikan.

Akan tetapi seolah tidak belajar dan entah kenapa bias terjadi, Era Reformasi justru berpanglima “politik” dan “ekonomi” sekaligus. Peradaban bangsa kita sekarang ini justru lebih rendah daripada peradaban manusia pra-Indonesia merdeka.

Harap bedakan antara teknologi dan peradaban. Kalau masalah teknologi, tentu era kita jelas lebih canggih. Namun, soal perdaban manusia Indonesia era Reformasi, bias dibilang kalah dibandingkan dengan peradaban manusia Indonesia zaman pra-kemerdekaan.
Bangsa kita sekarang berpanglimakan “politik” dan “ekonomi” sekaligus. Akibatnya, bangsa kita sering kesulitan menemukan orang lain yang tulus dalam bergaul.

Agar lebih jelas dan mudah dipahami, kita pakai contoh kasus saja. Misalnya Anda diberi empat buah oilihan jalan hidup dan Anda benar-benar dibebaskan memilih oleh Allah Swt. Manakah yang Anda pilih? Menjadi (1) Orang saleh, (2) orang pintar, (3) orang berkuasa,atau (4) orang kaya.

Pilihannya cuman empat, Kira-kira mayoritas manusia Indonesia sekarang ini memilih nomor berapa jika dibebaskan oleh Allah Swt, untuk memilih? Menurut Anda, mayoritas manusia Indonesia sekarang benar-benar sangat ingin menjadi?

Kalau menurut KH. Muhammad Ainun Nadjib, seorang alim ulama yang juga pemerhati kebuadayaan, manusia Indonesia kini kebanyakan pasti ingin menjadi no (4), yaitu orang kaya. Tidak sekedar ingin, tetapi cenderung ambisius.

Jalan hidup yang paling diinginkan orang kebanyakan bahkan mungkin hamper semua masa kini adalah menjadi orang kaya.

Ranking kedua adlah cita-cita menjadi pejabat karena orang yang sudah punya kekuasaan, tidak pernah puas sebelum ia bias(tetap bercita-cita) jadi orang kaya. Oleh karena itu, kita jarang menemui pejabat yang tidak memperkaya dirinya.

Peringkat ketiga adalah cita-cita menjadi cendekiawan kerena kaum cendekiawan umumnya mau tunduk pada para pejabat, karena (lagi-lagi) juga mengincar kekayaan. Dengan menjadi bawahan para pejabat, seorang cendikiawan sering berharap diciprati uang.

Peringkat terakhir adalah cita-cita menjadi orang saleh. Peradaban manusia Indonesia Era Reformasi seperti itu kenyataanya. Orang saleh tidak dihargai di Indonesia.


Saya tidak menyebut”menjadi ulama” karena definisi ulamadi Indonesia sudah kacau-balau. Ahli fisika, ahli matematika, ahli sejarah, dan sebagainya tidak boleh dipanggil”ulama” di Indonesia. Jadi, saya memakai diksi”orang saleh”.


#retyped from: Kembali Menjadi Manusia.
#retyper         :Ahmad Jazuly

0 komentar :