Ketika
cinta tak mengenal Aqidah
Aku tak
peduli engkau NU atau Muhammadiyah, Suni ataupun Syiah
Kalau
memang cinta itu melengkapi, maka dua Aqidah
bersemi indah
Ketika
cinta tak mengenal Ideologi
Aku tak
peduli engkau Marxisme atau Kapitalisme, Pancasilais ataupun Komunis
Kalau
memang cinta itu percaya dan setia, maka dua ideologi bermesraan pluralis
Ketika
cinta tak mengenal Thoriqot
Aku tak
peduli engkau Jancukiyah ataupun Maiyah
Kalau
memang cinta itu bertuju bahagia, maka dua Thoriqot
tertawa ria
Ketika
cinta tak mengenal Organisasi
Aku tak
peduli engkau Masyumi atau PKI, HMI
ataupun HTI
Kalau
memang cinta itu maslahatul ummat, maka sejuta organisasi bersatu misi
Ketika
cinta tak mengenal Ahlaq
Aku tak
peduli engkau mahmudah atau mazmumah, hasannah ataupun dolalah
Kalu memang
cinta itu meluruskan, maka Ahlaq
bukanlah pantangan
Ketika
cinta tak mengenal Kelas
Aku tak
peduli engkau atasan atau bawahan, proletar
ataupun borjouis
Kalau
memang cinta itu menyatukan, maka perbedaan kelas tidaklah berbekas
Ketika
cinta tak mengenal Kualitas
Aku tak
peduli engkau jelek atau cantik, bodoh ataupun pintar
Kalau
memang cinta itu berikrarkan tulus dan Ikhlas, maka kualitas tak jadi prioritas
Ketika
Cinta tak mengenal Jarak
Aku tak
peduli engkau disini atau disana, di negeri ini ataupun negeri tetangga
Kalau
memang cinta itu saling mengerti dan memiliki, maka jarak tiadalah berarti
Ketika
cinta tak mengenali aku
Maka
kamulah pertanyaan dan sekaligus jawaban, sebab dan juga akibat
Atas segala
keamniesianmu terhadapa aku
Kediri, 5
November 2017
jazulisme









